Wednesday, April 18, 2007

UNTUK NANGROE ACEH DARRULSALAM

Tarian Kunang-Kunang
- untuk para syuhada Aceh

seribu kunang-kunang menari di serambi rumah
kami yang tiris.
berputar, berpendar, berpencar seperti darwis.
seribu kunang-kunang menari

tak lelah dengan sayap patah.
menjerit, meronta,

memekik semburkan darah.
tiada cerlang kuning kemilau di serambi, tak hijau.
tak jua gerlap putih memukau di rumah kami, gebalau.

seribu kunang-kunang buta menari di serambi rumah
kami yang tiris - menangis.

Dan Kota Menjadi Serpih

ada yang tak diucapkan laut
saat ia hadir datang menjemput
luruhkan kota menjadi serpih

mereka. mereka. mereka.
nama-nama. tanpa nama.
mereka. mereka. entah siapa.

ada yang tak diucapkan laut
selesai kiambang bertaut
: dalam lukamu aku terluka

Ketika Laut, Ketika Maut

I
seorang bocah bertanya
pada ombak yang mengecup pipinya mesra,
- kita mau kemana sih, ombak?
soalnya aku lupa bawa boneka.
II

seorang ibu bergumam
saat asin dan kristal garam
mendera tubuhnya merajam.
- sampaikan pada anak-anak dan suamiku,
berjuta maaf dengan cinta,
tak sempat aku siapkan kalian sarapan.
III
seorang ayah melawan,
hindari genangan demi genangan,
- aku akan ikuti nuh dengan caraku sendiri.
belum sampai waktuku di sini.
IV
ombak yang berputar gemetar,
- maafkan aku, maafkan ya mujahid
mengapa harus di dalam maut
kita terpaut.

Blues For Allah

kehidupan begitu fana
dan kematian begitu abadi

bau mayat mayat busuk
dan erang anak anak
terserak antara puing puing rumah
rongsokan mobil dan sandal jepit jepang
di bawah langit biru
di batas debur ombak
dalam peta Nangroe
yang sobek tak lagi terbaca
–setelah tentara tentara asing
masuk ke mari
dan menembaki mereka,
sekarang amarah samudera
menghabisi apa yang
masih tersisa.

kehidupan begitu fana
kematian begitu abadi,
dan kata kata? apa yang sanggup
dilakukan kata kata penyair
selain menyanyikan lagu duka
nyiur melambai di pantai
yang kehilangan celoteh camar
dan angkuh layar sobek
nelayan penguasa buih pagi?

kehidupan begitu fana
dan rintih ikan ikan kecil
terdampar di trotoar aspal jalanan
jadi azan terakhir
mengetuk ngetukpintu langit tak bernama
menembus kabut awan airmata
semoga diterbangkan burung musim ke batas cakrawala

Requim Untuk Aceh 1

AzanMu baru saja digemakan
matahari masih terselimuti awan
seketika ombak menelan Serambi Mekah
tanah Nangroe kembali menangis, meratap
dan nyawa luluh lantak, berserakan
Astafirrullah

Requim Untuk Aceh 2

Diserambi Allah
mereka telah bersimbah memohon
- bebaskan belenggu jahanam

diserambi Allah
mereka berjejar menuju rumahMu
diam dalam kebebasan panjang

Requim Untuk Aceh 3

Inikah jawaban atas doa-doa jiwa
yang merana di tanah Nangroe, Tuhan?
mereka terhempas ombak
terseret gelombang,
mereka mati, terbalut asa yang tak berujung
kejam benar takdirMu akan mereka

Requim Untuk Aceh 4

Aceh!
aku bukan saudaramu
tapi juangmu mengikat jiwa kita

kini kau luluh lantak
jiwamu mengelantung tak pasti
budayamu terkikis,
anak-anak kehilangan arah
dan aku hanya bisa diam
tak bergeming
merenungi serambi-serambimu
yang tergenang beku

aku bukan saudaramu
tapi jiwa kita telah tersimpul
Aceh!

Requim Untuk Aceh 5

Tuhan!
inikah yang kau takdirkan
ketika kau wahyukan bumi Nangroe?
llidah-lidah gelombang menelan mereka
terkubur tak berbalut kain kafan
dan tak teriring suara azan

Tuhan!
surau-surauMu pun terserabuti dan roboh
tak ada lagi tempat mendendang syairMu
dosa apakah mereka, Tuhan?
purna sudah asa mereka
kini jemputlah mereka diserambi abadiMu


Dili, 10 Januari 2005

No comments: