Wednesday, April 18, 2007

Sajak Tragedi Nusa Damai

Kesenduan batang padi masih terdengar
Dari ujung tanah Maliana
Itu sama pedihnya dengan gaung yang bertarung pada ujung bukit Matebian, Baguia

Hutan Costa Sul tercekik sepi, sama padatnya dengan
Desah kebisuan yang bersarang di Kraras, Liquisa dan Suai
Desah menentang dari sudut mata dan sejarah lama
Kegagahan kita belum usai,
Seperti yang pernah diimingkan epos-epos lama

Sejarah palsu mengantarkan debu dari negeri terjauh
Dan kita menari jadi pejantan kecut yang enggan bertempik,
Menepis dengan tangan,
Menghindari pertarungan demi mimpi dan janji

Dengarlah, wahai putera negeri
Ada yang melata disampingmu
Ada yang menjamah perut – perut bundamu
Ada yang mengelepar, menghanguskan tanah kita sampai retak
Hingga tak lagi mau memperanakan pohon – pohon,
Memperanakan sungai dan sungai mengalir membelah samudra

Mimpi dan tidur nyenyak tak kunjung usai
Angka-angka kosong makin mengelembung
Melupakan nada dan tembang nenek moyang
: Tempat dimana dulu seribu kerinduan pernah bersarang.
28 Agustus 2002 / Mengenang tragedi September 1999

No comments: