Wednesday, April 18, 2007

Biarlah

Biar, biarlah aku.
Mengenangmu dengan manis
Seakan pahit itu tak pernah ada
Biar, biarlah aku.
Mencintaimu dalam hati tanpa terucap
Agar aku tak perlu melabuhkan harap.
Comarca, 22 Mei 2003

Di Batas Pelangi


Di batas pelangi
Kutitipkan namamu di sana
Kelak suatu saat akan kujemput
Jika tiba saatnya aku jatuh cinta
Comarca, 28 Mei 2003

Cemburu


Rasa ini menghujam hatiku
Menorehkan pedih dan pilu
Lalu kau melontarkan tanya
Kapankah cemburu itu ada?
Aku hanya diam membisu
Hatiku menjerit, andai kau tahu
Cemburu itu ada
Ketika cinta mulai menyapa.
Comarca, 25 Juli 2003

Soneta Cinta

Aku tak mencintaimu

seandainya kamu adalah mawar tawar,
topaz
atau tangkai anyelir yang menyemai api:

Aku mencintaimu seperti benda
hitam yang dicintai,
secara rahasia, antara bayangan
dan jiwa.

Aku mencintaimu seperti

tanaman yang tidak mekar dan menyebar
tersembunyi di dalam dirinya
cahaya dari bunga-bunga,
dan berkat cintamu, yang gelap
di dalam tubuhku

hiduplah wewangi pekat yang
terbit dari bumi.

Aku mencintaimu tanpa tahu

bagaimana, atau kapan, atau dari
mana,
Aku mencintaimu dengan
sederhana, tanpa persoalan atau kebanggaan:

Aku mencintaimu dengan cara
ini karena aku tak tahu cara lain
untuk mencinta
tapi inilah,

di mana tiada aku atau kamu, begitu lekat, tanganmu di atas
dadaku adalah tanganku,
begitu rapat, ketika aku jatuh
lelap adalah matamu yang melindap.
Behau, 20/12/2003

Jam 4 pagi


Malam tengah menghitung nafas yang tersisa,
aku jatuh pada rotasi waktu.
Hadirnya yang mengajakku menilik maya kala sebelum masa.
memilin jalinan kisah-kisah yang masih bertebaran tak genah.

Aku terbang di ambang peraduan,
berputar tembusi bayang gambar yang tak lagi berbingkai.
Bagai gurinda menggerus peradaban langit dan bumi,
makin lama makin lebar dan dalam.
: Tak satu pun sempat cerna cahar dalam pola abstrak di pikirku
Behau, 21/12/2003_04 .13


Mencintaimu


Mencintaimu.
Berarti sepenuh hati tanpa ragu
Dan aku mau.

Mencintaimu.
Berarti berkorban demi kita
Dan aku rela.

Mencintaimu.
Berarti menjadi tua bersamamu
Dan aku sanggup.

Mencintaimu.
Berarti tanpa pamrih
Dan aku ikhlas.
Comarca, 23 Juni 2004

Puisi Buat Adinda:

Duhai adinda:
Gerimis malam ini
Mengiris sunyiku
Denting-denting
Air hujan yang meresap
Dalam goresan batin ini
Tak kuasa meluapkan kasmaranku
Akan ayumu

Duhai adinda:
Bulan bersolek
Sementara:
Tik..tik..tik..
Tik..tik.. tik..
Membelenggu tatapku
Akan ragamu

Duhai adinda;
Malam ini
Tak kuasa kumenahan hasrat
Hanya tetesan air hujan;
Tik..tik..tik…
Iramakan senggama ku dengan bayangmu
Talitakum, Farol, 15 April 2002

Sajak hari demi hari

Hari demi hari gelisahku
Kisah demi kisah tunggal, gelisahku
Dosa demi dosa menyentak, tuhanku
Tak cukup aku hanya dengan rasa malu
Didalam kamar-sekap diri

Beri aku keberanian
Merengut topeng busana
Telanjang menari membujur sekujur badan
Dihadapan hadirin
Sahabat sahabat tercinta
House 21-Talybont recidence, Cardiff, August 2001.

Sirna

Mestinya ku ucapkan;

Kepada gadisku yang diam
Ketika fragmen ini hendak usai

Ada yang hendak kukatakan;
Ketika kita berkaca pada diam
Sepi tak bertepi

Ada yang perlu kutinggalkan;
Ketika aku hendak pamit
Berlalu dihantar angin
Darwin, Frangipane, 3 September 2002.

AKU, PEREMPUAN dan CINTA

Senggama (Ingatkah kau dengan senggama pertama kita?)
Senggama pertama
terindah bagimu adalah di bawah tudung langit
sembunyi! Tuhan tak bisa melihat; pekikmu!

senggama pertama
melemparkan kita menembus angkasa
melayang diantara galaksi-galaksi
ribuan mil berjarak mengitari matahari

senggama pertama
setubuh terlarang pada sang bunda
menyusup ke alam manusia,
sementara ruh-mu terpenjara
kau buka paksa pintu yang sudah berpalang
rahasia menuju sebuah pembebasan
kejalan yang terpetakan

senggama pertama
Penindasan sakral! nisbi?!
penghisapan! pengeksploitasian!

senggama pertama
hikayat rahasia alam;memaksakan hujan turun di musim kemarau!

Dili, November 2003

Andai

Andai tidak ada kamu,
Aku tidak perlu melamun ditengah hiruk-pikuk mata mata
Andai kamu hadir dari dulu
aku tak perlu merayumu seperti ini
Andai aku memendam hasrat
akankah kau pergi?
Comarca Balide, April 2003

Bertemu Ayah-Ibumu

Ini saat yang meresahkan
Aku terhimpit oleh rasa senang tapi juga was-was
Haruskah menyebar senyum atau mengukur kata-kata ?
hari ini aku bertemu ayah-ibumu
besok kubangun rumah kita
Dili, 16 April 2004

Cincin pemberianku

Di Heathrow, dingin membungkus kulitku
aku kangen kamu

Orang lalu lalang mengejar waktu,
mengapai impian
menuju hari nyata

Aku masih duduk menerawang
andai kau ada disisiku.

Aku akan segera pulang
tak lebih dari 24 jam lagi
kan kutemui kau, bidadariku

Diseberang itu
ada sebuah duty free jewelry

Hatiku memilih cincin ini
tak berlapis emas dan berlian
tapi kubaluti dengan cinta
Kelak kan kita labuhkan dipantai abadi.
Dili,16 April 2004

Cinta
: Untuk Remigia


Aku tak pernah tahu apa itu!
hanya bisa aku laruti didalamnya
memendam cemas
melarutkan impian
menghanyutkan rindu
melepas marah
menyesali diri
Dan
tempat melabuhkan segala hasrat
berdua denganmu selamanya
Balide, 16 April 2004


Keajaiban
:Tuk Mizia

kunantikan keajaiban datang

membungkus semua lukamu
tak kubiarkan kau terbangun
dari lelap mimpi-mimpimu

dengarkan sesaat saja
aku bicara tentang cinta
tertawalah sesaat saja
kita habiskan waktu dengan canda
kita harapkan semuasegala cita yang kita bawa
jangan lagi ada airmata
karena hari ini ku ingin bahagia
Bairro Economico,09 march 2004

Langkah Baru

Sudah jelas sekarang
di mana mentari
Terbit dan tenggelam di tengah hari
Kini kunyalakan lagi lampu hatiku
Menatap pasti dengan langkah baru
Comarca, 10 Maret 2004

Lintang

Lurus membelah
Membentang
tak temui ujung cakrawala

Mata

Bulat dan lonjong
awal hidup terekam
menatap dalam
penuh tanya

Bayangan

Menjauh
mendekat
membuntuti
mendahului
tak pernah serupa
selalu mematai

Senyum

manis
manja
suka
duka
kecut
Tak selalu sama
penuh tanya
penuh makna

Janji

Tautan mulut dan hati
tandai asa
berujung waktu

Malam

Temaram senyap
kasur merindu
hasrat merana
gelap menyelimuti tubuh
Comarca-Balide, 17 Maret 2004

MALAPETAKA

Ketika kita tak sadar
semua luluh
salah siapa?

Renon, 7 November 2006

WAJAH-WAJAH KITA

Wajah-wajah tak lagi berbentuk
bopeng sana sini
tergurat waktu dan beralur dalam
berwujud mati
Renon, 7 November 2006

NYANYIAN EMBUN

Setia menetes
membasuh tapak-tapak di tanah gersang
meluruhkan hari-hari berdarah

Renon, 7 November 2006

JEJAK MERINTIH

Jejak-jejak merintih
oh… bagaikan berbahasa
mengurai kenangan masa lalu
Renon, 7 November 2006

UNTUK NANGROE ACEH DARRULSALAM

Tarian Kunang-Kunang
- untuk para syuhada Aceh

seribu kunang-kunang menari di serambi rumah
kami yang tiris.
berputar, berpendar, berpencar seperti darwis.
seribu kunang-kunang menari

tak lelah dengan sayap patah.
menjerit, meronta,

memekik semburkan darah.
tiada cerlang kuning kemilau di serambi, tak hijau.
tak jua gerlap putih memukau di rumah kami, gebalau.

seribu kunang-kunang buta menari di serambi rumah
kami yang tiris - menangis.

Dan Kota Menjadi Serpih

ada yang tak diucapkan laut
saat ia hadir datang menjemput
luruhkan kota menjadi serpih

mereka. mereka. mereka.
nama-nama. tanpa nama.
mereka. mereka. entah siapa.

ada yang tak diucapkan laut
selesai kiambang bertaut
: dalam lukamu aku terluka

Ketika Laut, Ketika Maut

I
seorang bocah bertanya
pada ombak yang mengecup pipinya mesra,
- kita mau kemana sih, ombak?
soalnya aku lupa bawa boneka.
II

seorang ibu bergumam
saat asin dan kristal garam
mendera tubuhnya merajam.
- sampaikan pada anak-anak dan suamiku,
berjuta maaf dengan cinta,
tak sempat aku siapkan kalian sarapan.
III
seorang ayah melawan,
hindari genangan demi genangan,
- aku akan ikuti nuh dengan caraku sendiri.
belum sampai waktuku di sini.
IV
ombak yang berputar gemetar,
- maafkan aku, maafkan ya mujahid
mengapa harus di dalam maut
kita terpaut.

Blues For Allah

kehidupan begitu fana
dan kematian begitu abadi

bau mayat mayat busuk
dan erang anak anak
terserak antara puing puing rumah
rongsokan mobil dan sandal jepit jepang
di bawah langit biru
di batas debur ombak
dalam peta Nangroe
yang sobek tak lagi terbaca
–setelah tentara tentara asing
masuk ke mari
dan menembaki mereka,
sekarang amarah samudera
menghabisi apa yang
masih tersisa.

kehidupan begitu fana
kematian begitu abadi,
dan kata kata? apa yang sanggup
dilakukan kata kata penyair
selain menyanyikan lagu duka
nyiur melambai di pantai
yang kehilangan celoteh camar
dan angkuh layar sobek
nelayan penguasa buih pagi?

kehidupan begitu fana
dan rintih ikan ikan kecil
terdampar di trotoar aspal jalanan
jadi azan terakhir
mengetuk ngetukpintu langit tak bernama
menembus kabut awan airmata
semoga diterbangkan burung musim ke batas cakrawala

Requim Untuk Aceh 1

AzanMu baru saja digemakan
matahari masih terselimuti awan
seketika ombak menelan Serambi Mekah
tanah Nangroe kembali menangis, meratap
dan nyawa luluh lantak, berserakan
Astafirrullah

Requim Untuk Aceh 2

Diserambi Allah
mereka telah bersimbah memohon
- bebaskan belenggu jahanam

diserambi Allah
mereka berjejar menuju rumahMu
diam dalam kebebasan panjang

Requim Untuk Aceh 3

Inikah jawaban atas doa-doa jiwa
yang merana di tanah Nangroe, Tuhan?
mereka terhempas ombak
terseret gelombang,
mereka mati, terbalut asa yang tak berujung
kejam benar takdirMu akan mereka

Requim Untuk Aceh 4

Aceh!
aku bukan saudaramu
tapi juangmu mengikat jiwa kita

kini kau luluh lantak
jiwamu mengelantung tak pasti
budayamu terkikis,
anak-anak kehilangan arah
dan aku hanya bisa diam
tak bergeming
merenungi serambi-serambimu
yang tergenang beku

aku bukan saudaramu
tapi jiwa kita telah tersimpul
Aceh!

Requim Untuk Aceh 5

Tuhan!
inikah yang kau takdirkan
ketika kau wahyukan bumi Nangroe?
llidah-lidah gelombang menelan mereka
terkubur tak berbalut kain kafan
dan tak teriring suara azan

Tuhan!
surau-surauMu pun terserabuti dan roboh
tak ada lagi tempat mendendang syairMu
dosa apakah mereka, Tuhan?
purna sudah asa mereka
kini jemputlah mereka diserambi abadiMu


Dili, 10 Januari 2005