Biarlah
Biar, biarlah aku.
Mengenangmu dengan manis
Seakan pahit itu tak pernah ada
Biar, biarlah aku.
Mencintaimu dalam hati tanpa terucap
Agar aku tak perlu melabuhkan harap.
Comarca, 22 Mei 2003
Di Batas Pelangi
Di batas pelangi
Kutitipkan namamu di sana
Kelak suatu saat akan kujemput
Jika tiba saatnya aku jatuh cinta
Comarca, 28 Mei 2003
Cemburu
Rasa ini menghujam hatiku
Menorehkan pedih dan pilu
Lalu kau melontarkan tanya
Kapankah cemburu itu ada?
Aku hanya diam membisu
Hatiku menjerit, andai kau tahu
Cemburu itu ada
Ketika cinta mulai menyapa.
Comarca, 25 Juli 2003
Soneta Cinta
Aku tak mencintaimu
seandainya kamu adalah mawar tawar,
topaz
atau tangkai anyelir yang menyemai api:
Aku mencintaimu seperti benda
hitam yang dicintai,
secara rahasia, antara bayangan
dan jiwa.
Aku mencintaimu seperti
tanaman yang tidak mekar dan menyebar
tersembunyi di dalam dirinya
cahaya dari bunga-bunga,
dan berkat cintamu, yang gelap
di dalam tubuhku
hiduplah wewangi pekat yang
terbit dari bumi.
Aku mencintaimu tanpa tahu
bagaimana, atau kapan, atau dari
mana,
Aku mencintaimu dengan
sederhana, tanpa persoalan atau kebanggaan:
Aku mencintaimu dengan cara
ini karena aku tak tahu cara lain
untuk mencinta
tapi inilah,
di mana tiada aku atau kamu, begitu lekat, tanganmu di atas
dadaku adalah tanganku,
begitu rapat, ketika aku jatuh
lelap adalah matamu yang melindap.
Behau, 20/12/2003
Jam 4 pagi
Malam tengah menghitung nafas yang tersisa,
aku jatuh pada rotasi waktu.
Hadirnya yang mengajakku menilik maya kala sebelum masa.
memilin jalinan kisah-kisah yang masih bertebaran tak genah.
Aku terbang di ambang peraduan,
berputar tembusi bayang gambar yang tak lagi berbingkai.
Bagai gurinda menggerus peradaban langit dan bumi,
makin lama makin lebar dan dalam.
: Tak satu pun sempat cerna cahar dalam pola abstrak di pikirku
Behau, 21/12/2003_04 .13
Mencintaimu
Mencintaimu.
Berarti sepenuh hati tanpa ragu
Dan aku mau.
Mencintaimu.
Berarti berkorban demi kita
Dan aku rela.
Mencintaimu.
Berarti menjadi tua bersamamu
Dan aku sanggup.
Mencintaimu.
Berarti tanpa pamrih
Dan aku ikhlas.
Comarca, 23 Juni 2004
Puisi Buat Adinda:
Duhai adinda:
Gerimis malam ini
Mengiris sunyiku
Denting-denting
Air hujan yang meresap
Dalam goresan batin ini
Tak kuasa meluapkan kasmaranku
Akan ayumu
Duhai adinda:
Bulan bersolek
Sementara:
Tik..tik..tik..
Tik..tik.. tik..
Membelenggu tatapku
Akan ragamu
Duhai adinda;
Malam ini
Tak kuasa kumenahan hasrat
Hanya tetesan air hujan;
Tik..tik..tik…
Iramakan senggama ku dengan bayangmu
Talitakum, Farol, 15 April 2002
Sajak hari demi hari
Hari demi hari gelisahku
Kisah demi kisah tunggal, gelisahku
Dosa demi dosa menyentak, tuhanku
Tak cukup aku hanya dengan rasa malu
Didalam kamar-sekap diri
Beri aku keberanian
Merengut topeng busana
Telanjang menari membujur sekujur badan
Dihadapan hadirin
Sahabat sahabat tercinta
House 21-Talybont recidence, Cardiff, August 2001.
Sirna
Mestinya ku ucapkan;
Kepada gadisku yang diam
Ketika fragmen ini hendak usai
Ada yang hendak kukatakan;
Ketika kita berkaca pada diam
Sepi tak bertepi
Ada yang perlu kutinggalkan;
Ketika aku hendak pamit
Berlalu dihantar angin
Darwin, Frangipane, 3 September 2002.
Wednesday, April 18, 2007
AKU, PEREMPUAN dan CINTA
Senggama (Ingatkah kau dengan senggama pertama kita?)
Senggama pertama
terindah bagimu adalah di bawah tudung langit
sembunyi! Tuhan tak bisa melihat; pekikmu!
senggama pertama
melemparkan kita menembus angkasa
melayang diantara galaksi-galaksi
ribuan mil berjarak mengitari matahari
senggama pertama
setubuh terlarang pada sang bunda
menyusup ke alam manusia,
sementara ruh-mu terpenjara
kau buka paksa pintu yang sudah berpalang
rahasia menuju sebuah pembebasan
kejalan yang terpetakan
senggama pertama
Penindasan sakral! nisbi?!
penghisapan! pengeksploitasian!
senggama pertama
hikayat rahasia alam;memaksakan hujan turun di musim kemarau!
Dili, November 2003
Andai
Andai tidak ada kamu,
Aku tidak perlu melamun ditengah hiruk-pikuk mata mata
Andai kamu hadir dari dulu
aku tak perlu merayumu seperti ini
Andai aku memendam hasrat
akankah kau pergi?
Comarca Balide, April 2003
Bertemu Ayah-Ibumu
Ini saat yang meresahkan
Aku terhimpit oleh rasa senang tapi juga was-was
Haruskah menyebar senyum atau mengukur kata-kata ?
hari ini aku bertemu ayah-ibumu
besok kubangun rumah kita
Dili, 16 April 2004
Cincin pemberianku
Di Heathrow, dingin membungkus kulitku
aku kangen kamu
Orang lalu lalang mengejar waktu,
mengapai impian
menuju hari nyata
Aku masih duduk menerawang
andai kau ada disisiku.
Aku akan segera pulang
tak lebih dari 24 jam lagi
kan kutemui kau, bidadariku
Diseberang itu
ada sebuah duty free jewelry
Hatiku memilih cincin ini
tak berlapis emas dan berlian
tapi kubaluti dengan cinta
Kelak kan kita labuhkan dipantai abadi.
Dili,16 April 2004
Cinta
: Untuk Remigia
Aku tak pernah tahu apa itu!
hanya bisa aku laruti didalamnya
memendam cemas
melarutkan impian
menghanyutkan rindu
melepas marah
menyesali diri
Dan
tempat melabuhkan segala hasrat
berdua denganmu selamanya
Balide, 16 April 2004
Keajaiban
:Tuk Mizia
kunantikan keajaiban datang
membungkus semua lukamu
tak kubiarkan kau terbangun
dari lelap mimpi-mimpimu
dengarkan sesaat saja
aku bicara tentang cinta
tertawalah sesaat saja
kita habiskan waktu dengan canda
kita harapkan semuasegala cita yang kita bawa
jangan lagi ada airmata
karena hari ini ku ingin bahagia
Bairro Economico,09 march 2004
Langkah Baru
Sudah jelas sekarang di mana mentari
Terbit dan tenggelam di tengah hari
Kini kunyalakan lagi lampu hatiku
Menatap pasti dengan langkah baru
Comarca, 10 Maret 2004
Lintang
Lurus membelah
Membentang
tak temui ujung cakrawala
Mata
Bulat dan lonjong
awal hidup terekam
menatap dalam
penuh tanya
Bayangan
Menjauh
mendekat
membuntuti
mendahului
tak pernah serupa
selalu mematai
Senyum
manis
manja
suka
duka
kecut
Tak selalu sama
penuh tanya
penuh makna
Janji
Tautan mulut dan hati
tandai asa
berujung waktu
Malam
Temaram senyap
kasur merindu
hasrat merana
gelap menyelimuti tubuh
Comarca-Balide, 17 Maret 2004
Senggama pertama
terindah bagimu adalah di bawah tudung langit
sembunyi! Tuhan tak bisa melihat; pekikmu!
senggama pertama
melemparkan kita menembus angkasa
melayang diantara galaksi-galaksi
ribuan mil berjarak mengitari matahari
senggama pertama
setubuh terlarang pada sang bunda
menyusup ke alam manusia,
sementara ruh-mu terpenjara
kau buka paksa pintu yang sudah berpalang
rahasia menuju sebuah pembebasan
kejalan yang terpetakan
senggama pertama
Penindasan sakral! nisbi?!
penghisapan! pengeksploitasian!
senggama pertama
hikayat rahasia alam;memaksakan hujan turun di musim kemarau!
Dili, November 2003
Andai
Andai tidak ada kamu,
Aku tidak perlu melamun ditengah hiruk-pikuk mata mata
Andai kamu hadir dari dulu
aku tak perlu merayumu seperti ini
Andai aku memendam hasrat
akankah kau pergi?
Comarca Balide, April 2003
Bertemu Ayah-Ibumu
Ini saat yang meresahkan
Aku terhimpit oleh rasa senang tapi juga was-was
Haruskah menyebar senyum atau mengukur kata-kata ?
hari ini aku bertemu ayah-ibumu
besok kubangun rumah kita
Dili, 16 April 2004
Cincin pemberianku
Di Heathrow, dingin membungkus kulitku
aku kangen kamu
Orang lalu lalang mengejar waktu,
mengapai impian
menuju hari nyata
Aku masih duduk menerawang
andai kau ada disisiku.
Aku akan segera pulang
tak lebih dari 24 jam lagi
kan kutemui kau, bidadariku
Diseberang itu
ada sebuah duty free jewelry
Hatiku memilih cincin ini
tak berlapis emas dan berlian
tapi kubaluti dengan cinta
Kelak kan kita labuhkan dipantai abadi.
Dili,16 April 2004
Cinta
: Untuk Remigia
Aku tak pernah tahu apa itu!
hanya bisa aku laruti didalamnya
memendam cemas
melarutkan impian
menghanyutkan rindu
melepas marah
menyesali diri
Dan
tempat melabuhkan segala hasrat
berdua denganmu selamanya
Balide, 16 April 2004
Keajaiban
:Tuk Mizia
kunantikan keajaiban datang
membungkus semua lukamu
tak kubiarkan kau terbangun
dari lelap mimpi-mimpimu
dengarkan sesaat saja
aku bicara tentang cinta
tertawalah sesaat saja
kita habiskan waktu dengan canda
kita harapkan semuasegala cita yang kita bawa
jangan lagi ada airmata
karena hari ini ku ingin bahagia
Bairro Economico,09 march 2004
Langkah Baru
Sudah jelas sekarang di mana mentari
Terbit dan tenggelam di tengah hari
Kini kunyalakan lagi lampu hatiku
Menatap pasti dengan langkah baru
Comarca, 10 Maret 2004
Lintang
Lurus membelah
Membentang
tak temui ujung cakrawala
Mata
Bulat dan lonjong
awal hidup terekam
menatap dalam
penuh tanya
Bayangan
Menjauh
mendekat
membuntuti
mendahului
tak pernah serupa
selalu mematai
Senyum
manis
manja
suka
duka
kecut
Tak selalu sama
penuh tanya
penuh makna
Janji
Tautan mulut dan hati
tandai asa
berujung waktu
Malam
Temaram senyap
kasur merindu
hasrat merana
gelap menyelimuti tubuh
Comarca-Balide, 17 Maret 2004
WAJAH-WAJAH KITA
Wajah-wajah tak lagi berbentuk
bopeng sana sini
tergurat waktu dan beralur dalam
berwujud mati
Renon, 7 November 2006
bopeng sana sini
tergurat waktu dan beralur dalam
berwujud mati
Renon, 7 November 2006
NYANYIAN EMBUN
Setia menetes
membasuh tapak-tapak di tanah gersang
meluruhkan hari-hari berdarah
Renon, 7 November 2006
membasuh tapak-tapak di tanah gersang
meluruhkan hari-hari berdarah
Renon, 7 November 2006
JEJAK MERINTIH
Jejak-jejak merintih
oh… bagaikan berbahasa
mengurai kenangan masa lalu
Renon, 7 November 2006
oh… bagaikan berbahasa
mengurai kenangan masa lalu
Renon, 7 November 2006
UNTUK NANGROE ACEH DARRULSALAM
Tarian Kunang-Kunang
- untuk para syuhada Aceh
seribu kunang-kunang menari di serambi rumah
kami yang tiris.
berputar, berpendar, berpencar seperti darwis.
seribu kunang-kunang menari
tak lelah dengan sayap patah.
menjerit, meronta,
memekik semburkan darah.
tiada cerlang kuning kemilau di serambi, tak hijau.
tak jua gerlap putih memukau di rumah kami, gebalau.
seribu kunang-kunang buta menari di serambi rumah
kami yang tiris - menangis.
Dan Kota Menjadi Serpih
ada yang tak diucapkan laut
saat ia hadir datang menjemput
luruhkan kota menjadi serpih
mereka. mereka. mereka.
nama-nama. tanpa nama.
mereka. mereka. entah siapa.
ada yang tak diucapkan laut
selesai kiambang bertaut
: dalam lukamu aku terluka
Ketika Laut, Ketika Maut
I
seorang bocah bertanya
pada ombak yang mengecup pipinya mesra,
- kita mau kemana sih, ombak?
soalnya aku lupa bawa boneka.
II
seorang ibu bergumam
saat asin dan kristal garam
mendera tubuhnya merajam.
- sampaikan pada anak-anak dan suamiku,
berjuta maaf dengan cinta,
tak sempat aku siapkan kalian sarapan.
III
seorang ayah melawan,
hindari genangan demi genangan,
- aku akan ikuti nuh dengan caraku sendiri.
belum sampai waktuku di sini.
IV
ombak yang berputar gemetar,
- maafkan aku, maafkan ya mujahid
mengapa harus di dalam maut
kita terpaut.
Blues For Allah
kehidupan begitu fana
dan kematian begitu abadi
bau mayat mayat busuk
dan erang anak anak
terserak antara puing puing rumah
rongsokan mobil dan sandal jepit jepang
di bawah langit biru
di batas debur ombak
dalam peta Nangroe
yang sobek tak lagi terbaca
–setelah tentara tentara asing
masuk ke mari
dan menembaki mereka,
sekarang amarah samudera
menghabisi apa yang
masih tersisa.
kehidupan begitu fana
kematian begitu abadi,
dan kata kata? apa yang sanggup
dilakukan kata kata penyair
selain menyanyikan lagu duka
nyiur melambai di pantai
yang kehilangan celoteh camar
dan angkuh layar sobek
nelayan penguasa buih pagi?
kehidupan begitu fana
dan rintih ikan ikan kecil
terdampar di trotoar aspal jalanan
jadi azan terakhir
mengetuk ngetukpintu langit tak bernama
menembus kabut awan airmata
semoga diterbangkan burung musim ke batas cakrawala
Requim Untuk Aceh 1
AzanMu baru saja digemakan
matahari masih terselimuti awan
seketika ombak menelan Serambi Mekah
tanah Nangroe kembali menangis, meratap
dan nyawa luluh lantak, berserakan
Astafirrullah
Requim Untuk Aceh 2
Diserambi Allah
mereka telah bersimbah memohon
- bebaskan belenggu jahanam
diserambi Allah
mereka berjejar menuju rumahMu
diam dalam kebebasan panjang
Requim Untuk Aceh 3
Inikah jawaban atas doa-doa jiwa
yang merana di tanah Nangroe, Tuhan?
mereka terhempas ombak
terseret gelombang,
mereka mati, terbalut asa yang tak berujung
kejam benar takdirMu akan mereka
Requim Untuk Aceh 4
Aceh!
aku bukan saudaramu
tapi juangmu mengikat jiwa kita
kini kau luluh lantak
jiwamu mengelantung tak pasti
budayamu terkikis,
anak-anak kehilangan arah
dan aku hanya bisa diam
tak bergeming
merenungi serambi-serambimu
yang tergenang beku
aku bukan saudaramu
tapi jiwa kita telah tersimpul
Aceh!
Requim Untuk Aceh 5
Tuhan!
inikah yang kau takdirkan
ketika kau wahyukan bumi Nangroe?
llidah-lidah gelombang menelan mereka
terkubur tak berbalut kain kafan
dan tak teriring suara azan
Tuhan!
surau-surauMu pun terserabuti dan roboh
tak ada lagi tempat mendendang syairMu
dosa apakah mereka, Tuhan?
purna sudah asa mereka
kini jemputlah mereka diserambi abadiMu
Dili, 10 Januari 2005
- untuk para syuhada Aceh
seribu kunang-kunang menari di serambi rumah
kami yang tiris.
berputar, berpendar, berpencar seperti darwis.
seribu kunang-kunang menari
tak lelah dengan sayap patah.
menjerit, meronta,
memekik semburkan darah.
tiada cerlang kuning kemilau di serambi, tak hijau.
tak jua gerlap putih memukau di rumah kami, gebalau.
seribu kunang-kunang buta menari di serambi rumah
kami yang tiris - menangis.
Dan Kota Menjadi Serpih
ada yang tak diucapkan laut
saat ia hadir datang menjemput
luruhkan kota menjadi serpih
mereka. mereka. mereka.
nama-nama. tanpa nama.
mereka. mereka. entah siapa.
ada yang tak diucapkan laut
selesai kiambang bertaut
: dalam lukamu aku terluka
Ketika Laut, Ketika Maut
I
seorang bocah bertanya
pada ombak yang mengecup pipinya mesra,
- kita mau kemana sih, ombak?
soalnya aku lupa bawa boneka.
II
seorang ibu bergumam
saat asin dan kristal garam
mendera tubuhnya merajam.
- sampaikan pada anak-anak dan suamiku,
berjuta maaf dengan cinta,
tak sempat aku siapkan kalian sarapan.
III
seorang ayah melawan,
hindari genangan demi genangan,
- aku akan ikuti nuh dengan caraku sendiri.
belum sampai waktuku di sini.
IV
ombak yang berputar gemetar,
- maafkan aku, maafkan ya mujahid
mengapa harus di dalam maut
kita terpaut.
Blues For Allah
kehidupan begitu fana
dan kematian begitu abadi
bau mayat mayat busuk
dan erang anak anak
terserak antara puing puing rumah
rongsokan mobil dan sandal jepit jepang
di bawah langit biru
di batas debur ombak
dalam peta Nangroe
yang sobek tak lagi terbaca
–setelah tentara tentara asing
masuk ke mari
dan menembaki mereka,
sekarang amarah samudera
menghabisi apa yang
masih tersisa.
kehidupan begitu fana
kematian begitu abadi,
dan kata kata? apa yang sanggup
dilakukan kata kata penyair
selain menyanyikan lagu duka
nyiur melambai di pantai
yang kehilangan celoteh camar
dan angkuh layar sobek
nelayan penguasa buih pagi?
kehidupan begitu fana
dan rintih ikan ikan kecil
terdampar di trotoar aspal jalanan
jadi azan terakhir
mengetuk ngetukpintu langit tak bernama
menembus kabut awan airmata
semoga diterbangkan burung musim ke batas cakrawala
Requim Untuk Aceh 1
AzanMu baru saja digemakan
matahari masih terselimuti awan
seketika ombak menelan Serambi Mekah
tanah Nangroe kembali menangis, meratap
dan nyawa luluh lantak, berserakan
Astafirrullah
Requim Untuk Aceh 2
Diserambi Allah
mereka telah bersimbah memohon
- bebaskan belenggu jahanam
diserambi Allah
mereka berjejar menuju rumahMu
diam dalam kebebasan panjang
Requim Untuk Aceh 3
Inikah jawaban atas doa-doa jiwa
yang merana di tanah Nangroe, Tuhan?
mereka terhempas ombak
terseret gelombang,
mereka mati, terbalut asa yang tak berujung
kejam benar takdirMu akan mereka
Requim Untuk Aceh 4
Aceh!
aku bukan saudaramu
tapi juangmu mengikat jiwa kita
kini kau luluh lantak
jiwamu mengelantung tak pasti
budayamu terkikis,
anak-anak kehilangan arah
dan aku hanya bisa diam
tak bergeming
merenungi serambi-serambimu
yang tergenang beku
aku bukan saudaramu
tapi jiwa kita telah tersimpul
Aceh!
Requim Untuk Aceh 5
Tuhan!
inikah yang kau takdirkan
ketika kau wahyukan bumi Nangroe?
llidah-lidah gelombang menelan mereka
terkubur tak berbalut kain kafan
dan tak teriring suara azan
Tuhan!
surau-surauMu pun terserabuti dan roboh
tak ada lagi tempat mendendang syairMu
dosa apakah mereka, Tuhan?
purna sudah asa mereka
kini jemputlah mereka diserambi abadiMu
Dili, 10 Januari 2005
Subscribe to:
Posts (Atom)