Wednesday, April 18, 2007

Biarlah

Biar, biarlah aku.
Mengenangmu dengan manis
Seakan pahit itu tak pernah ada
Biar, biarlah aku.
Mencintaimu dalam hati tanpa terucap
Agar aku tak perlu melabuhkan harap.
Comarca, 22 Mei 2003

Di Batas Pelangi


Di batas pelangi
Kutitipkan namamu di sana
Kelak suatu saat akan kujemput
Jika tiba saatnya aku jatuh cinta
Comarca, 28 Mei 2003

Cemburu


Rasa ini menghujam hatiku
Menorehkan pedih dan pilu
Lalu kau melontarkan tanya
Kapankah cemburu itu ada?
Aku hanya diam membisu
Hatiku menjerit, andai kau tahu
Cemburu itu ada
Ketika cinta mulai menyapa.
Comarca, 25 Juli 2003

Soneta Cinta

Aku tak mencintaimu

seandainya kamu adalah mawar tawar,
topaz
atau tangkai anyelir yang menyemai api:

Aku mencintaimu seperti benda
hitam yang dicintai,
secara rahasia, antara bayangan
dan jiwa.

Aku mencintaimu seperti

tanaman yang tidak mekar dan menyebar
tersembunyi di dalam dirinya
cahaya dari bunga-bunga,
dan berkat cintamu, yang gelap
di dalam tubuhku

hiduplah wewangi pekat yang
terbit dari bumi.

Aku mencintaimu tanpa tahu

bagaimana, atau kapan, atau dari
mana,
Aku mencintaimu dengan
sederhana, tanpa persoalan atau kebanggaan:

Aku mencintaimu dengan cara
ini karena aku tak tahu cara lain
untuk mencinta
tapi inilah,

di mana tiada aku atau kamu, begitu lekat, tanganmu di atas
dadaku adalah tanganku,
begitu rapat, ketika aku jatuh
lelap adalah matamu yang melindap.
Behau, 20/12/2003

Jam 4 pagi


Malam tengah menghitung nafas yang tersisa,
aku jatuh pada rotasi waktu.
Hadirnya yang mengajakku menilik maya kala sebelum masa.
memilin jalinan kisah-kisah yang masih bertebaran tak genah.

Aku terbang di ambang peraduan,
berputar tembusi bayang gambar yang tak lagi berbingkai.
Bagai gurinda menggerus peradaban langit dan bumi,
makin lama makin lebar dan dalam.
: Tak satu pun sempat cerna cahar dalam pola abstrak di pikirku
Behau, 21/12/2003_04 .13


Mencintaimu


Mencintaimu.
Berarti sepenuh hati tanpa ragu
Dan aku mau.

Mencintaimu.
Berarti berkorban demi kita
Dan aku rela.

Mencintaimu.
Berarti menjadi tua bersamamu
Dan aku sanggup.

Mencintaimu.
Berarti tanpa pamrih
Dan aku ikhlas.
Comarca, 23 Juni 2004

Puisi Buat Adinda:

Duhai adinda:
Gerimis malam ini
Mengiris sunyiku
Denting-denting
Air hujan yang meresap
Dalam goresan batin ini
Tak kuasa meluapkan kasmaranku
Akan ayumu

Duhai adinda:
Bulan bersolek
Sementara:
Tik..tik..tik..
Tik..tik.. tik..
Membelenggu tatapku
Akan ragamu

Duhai adinda;
Malam ini
Tak kuasa kumenahan hasrat
Hanya tetesan air hujan;
Tik..tik..tik…
Iramakan senggama ku dengan bayangmu
Talitakum, Farol, 15 April 2002

Sajak hari demi hari

Hari demi hari gelisahku
Kisah demi kisah tunggal, gelisahku
Dosa demi dosa menyentak, tuhanku
Tak cukup aku hanya dengan rasa malu
Didalam kamar-sekap diri

Beri aku keberanian
Merengut topeng busana
Telanjang menari membujur sekujur badan
Dihadapan hadirin
Sahabat sahabat tercinta
House 21-Talybont recidence, Cardiff, August 2001.

Sirna

Mestinya ku ucapkan;

Kepada gadisku yang diam
Ketika fragmen ini hendak usai

Ada yang hendak kukatakan;
Ketika kita berkaca pada diam
Sepi tak bertepi

Ada yang perlu kutinggalkan;
Ketika aku hendak pamit
Berlalu dihantar angin
Darwin, Frangipane, 3 September 2002.

AKU, PEREMPUAN dan CINTA

Senggama (Ingatkah kau dengan senggama pertama kita?)
Senggama pertama
terindah bagimu adalah di bawah tudung langit
sembunyi! Tuhan tak bisa melihat; pekikmu!

senggama pertama
melemparkan kita menembus angkasa
melayang diantara galaksi-galaksi
ribuan mil berjarak mengitari matahari

senggama pertama
setubuh terlarang pada sang bunda
menyusup ke alam manusia,
sementara ruh-mu terpenjara
kau buka paksa pintu yang sudah berpalang
rahasia menuju sebuah pembebasan
kejalan yang terpetakan

senggama pertama
Penindasan sakral! nisbi?!
penghisapan! pengeksploitasian!

senggama pertama
hikayat rahasia alam;memaksakan hujan turun di musim kemarau!

Dili, November 2003

Andai

Andai tidak ada kamu,
Aku tidak perlu melamun ditengah hiruk-pikuk mata mata
Andai kamu hadir dari dulu
aku tak perlu merayumu seperti ini
Andai aku memendam hasrat
akankah kau pergi?
Comarca Balide, April 2003

Bertemu Ayah-Ibumu

Ini saat yang meresahkan
Aku terhimpit oleh rasa senang tapi juga was-was
Haruskah menyebar senyum atau mengukur kata-kata ?
hari ini aku bertemu ayah-ibumu
besok kubangun rumah kita
Dili, 16 April 2004

Cincin pemberianku

Di Heathrow, dingin membungkus kulitku
aku kangen kamu

Orang lalu lalang mengejar waktu,
mengapai impian
menuju hari nyata

Aku masih duduk menerawang
andai kau ada disisiku.

Aku akan segera pulang
tak lebih dari 24 jam lagi
kan kutemui kau, bidadariku

Diseberang itu
ada sebuah duty free jewelry

Hatiku memilih cincin ini
tak berlapis emas dan berlian
tapi kubaluti dengan cinta
Kelak kan kita labuhkan dipantai abadi.
Dili,16 April 2004

Cinta
: Untuk Remigia


Aku tak pernah tahu apa itu!
hanya bisa aku laruti didalamnya
memendam cemas
melarutkan impian
menghanyutkan rindu
melepas marah
menyesali diri
Dan
tempat melabuhkan segala hasrat
berdua denganmu selamanya
Balide, 16 April 2004


Keajaiban
:Tuk Mizia

kunantikan keajaiban datang

membungkus semua lukamu
tak kubiarkan kau terbangun
dari lelap mimpi-mimpimu

dengarkan sesaat saja
aku bicara tentang cinta
tertawalah sesaat saja
kita habiskan waktu dengan canda
kita harapkan semuasegala cita yang kita bawa
jangan lagi ada airmata
karena hari ini ku ingin bahagia
Bairro Economico,09 march 2004

Langkah Baru

Sudah jelas sekarang
di mana mentari
Terbit dan tenggelam di tengah hari
Kini kunyalakan lagi lampu hatiku
Menatap pasti dengan langkah baru
Comarca, 10 Maret 2004

Lintang

Lurus membelah
Membentang
tak temui ujung cakrawala

Mata

Bulat dan lonjong
awal hidup terekam
menatap dalam
penuh tanya

Bayangan

Menjauh
mendekat
membuntuti
mendahului
tak pernah serupa
selalu mematai

Senyum

manis
manja
suka
duka
kecut
Tak selalu sama
penuh tanya
penuh makna

Janji

Tautan mulut dan hati
tandai asa
berujung waktu

Malam

Temaram senyap
kasur merindu
hasrat merana
gelap menyelimuti tubuh
Comarca-Balide, 17 Maret 2004

MALAPETAKA

Ketika kita tak sadar
semua luluh
salah siapa?

Renon, 7 November 2006

WAJAH-WAJAH KITA

Wajah-wajah tak lagi berbentuk
bopeng sana sini
tergurat waktu dan beralur dalam
berwujud mati
Renon, 7 November 2006

NYANYIAN EMBUN

Setia menetes
membasuh tapak-tapak di tanah gersang
meluruhkan hari-hari berdarah

Renon, 7 November 2006

JEJAK MERINTIH

Jejak-jejak merintih
oh… bagaikan berbahasa
mengurai kenangan masa lalu
Renon, 7 November 2006

UNTUK NANGROE ACEH DARRULSALAM

Tarian Kunang-Kunang
- untuk para syuhada Aceh

seribu kunang-kunang menari di serambi rumah
kami yang tiris.
berputar, berpendar, berpencar seperti darwis.
seribu kunang-kunang menari

tak lelah dengan sayap patah.
menjerit, meronta,

memekik semburkan darah.
tiada cerlang kuning kemilau di serambi, tak hijau.
tak jua gerlap putih memukau di rumah kami, gebalau.

seribu kunang-kunang buta menari di serambi rumah
kami yang tiris - menangis.

Dan Kota Menjadi Serpih

ada yang tak diucapkan laut
saat ia hadir datang menjemput
luruhkan kota menjadi serpih

mereka. mereka. mereka.
nama-nama. tanpa nama.
mereka. mereka. entah siapa.

ada yang tak diucapkan laut
selesai kiambang bertaut
: dalam lukamu aku terluka

Ketika Laut, Ketika Maut

I
seorang bocah bertanya
pada ombak yang mengecup pipinya mesra,
- kita mau kemana sih, ombak?
soalnya aku lupa bawa boneka.
II

seorang ibu bergumam
saat asin dan kristal garam
mendera tubuhnya merajam.
- sampaikan pada anak-anak dan suamiku,
berjuta maaf dengan cinta,
tak sempat aku siapkan kalian sarapan.
III
seorang ayah melawan,
hindari genangan demi genangan,
- aku akan ikuti nuh dengan caraku sendiri.
belum sampai waktuku di sini.
IV
ombak yang berputar gemetar,
- maafkan aku, maafkan ya mujahid
mengapa harus di dalam maut
kita terpaut.

Blues For Allah

kehidupan begitu fana
dan kematian begitu abadi

bau mayat mayat busuk
dan erang anak anak
terserak antara puing puing rumah
rongsokan mobil dan sandal jepit jepang
di bawah langit biru
di batas debur ombak
dalam peta Nangroe
yang sobek tak lagi terbaca
–setelah tentara tentara asing
masuk ke mari
dan menembaki mereka,
sekarang amarah samudera
menghabisi apa yang
masih tersisa.

kehidupan begitu fana
kematian begitu abadi,
dan kata kata? apa yang sanggup
dilakukan kata kata penyair
selain menyanyikan lagu duka
nyiur melambai di pantai
yang kehilangan celoteh camar
dan angkuh layar sobek
nelayan penguasa buih pagi?

kehidupan begitu fana
dan rintih ikan ikan kecil
terdampar di trotoar aspal jalanan
jadi azan terakhir
mengetuk ngetukpintu langit tak bernama
menembus kabut awan airmata
semoga diterbangkan burung musim ke batas cakrawala

Requim Untuk Aceh 1

AzanMu baru saja digemakan
matahari masih terselimuti awan
seketika ombak menelan Serambi Mekah
tanah Nangroe kembali menangis, meratap
dan nyawa luluh lantak, berserakan
Astafirrullah

Requim Untuk Aceh 2

Diserambi Allah
mereka telah bersimbah memohon
- bebaskan belenggu jahanam

diserambi Allah
mereka berjejar menuju rumahMu
diam dalam kebebasan panjang

Requim Untuk Aceh 3

Inikah jawaban atas doa-doa jiwa
yang merana di tanah Nangroe, Tuhan?
mereka terhempas ombak
terseret gelombang,
mereka mati, terbalut asa yang tak berujung
kejam benar takdirMu akan mereka

Requim Untuk Aceh 4

Aceh!
aku bukan saudaramu
tapi juangmu mengikat jiwa kita

kini kau luluh lantak
jiwamu mengelantung tak pasti
budayamu terkikis,
anak-anak kehilangan arah
dan aku hanya bisa diam
tak bergeming
merenungi serambi-serambimu
yang tergenang beku

aku bukan saudaramu
tapi jiwa kita telah tersimpul
Aceh!

Requim Untuk Aceh 5

Tuhan!
inikah yang kau takdirkan
ketika kau wahyukan bumi Nangroe?
llidah-lidah gelombang menelan mereka
terkubur tak berbalut kain kafan
dan tak teriring suara azan

Tuhan!
surau-surauMu pun terserabuti dan roboh
tak ada lagi tempat mendendang syairMu
dosa apakah mereka, Tuhan?
purna sudah asa mereka
kini jemputlah mereka diserambi abadiMu


Dili, 10 Januari 2005

Menari bersama debu 2

Apa yang membawamu kemari?
Tanah kering, bebatuan dan gersang,
Awan menyirami darah dan airmata
Tapak-tapak tak pernah jelas
Diantara kaki-kaki yang
Tak berhenti menari
Diatas makam-makam leluhur
Bertanya

Sudah kau kenali kami?
Orang-orang tak bernomor
Dalam jagat manusia mati?
Siapa kami yang tak juga kau temu dalam ada
Selama bersama kami?

Burung besi itu akan terbang membawamu
Burung yang sama mengukir sejarah berdarah mereka yang tak bernomor
Dan menarik kamu dalam setiap debu-debu yang berhembus
Pergi
Semoga kelak kau kembali
Disambut tanah kering dan debu-debu tak bernomor.
Comarca, 30 September 2005

Menari bersama debu 1

Saat engkau pamit
Kata-kata tak lagi bermakna
Tatap dan khayalan
Menari dalam pelupuk
Masa lalu dan masa depan
Berbaur dalam hembusan angin

Dili terbakar lagi

Demi demokrasi,
demi keadilan
Bakar semua

Asap menggepul
Lalap api melumat
Semua yang dibangun
Diatas reruntuhan

Gedung parlamen tercabik
Para pemimpin terbirit-birit
Demi demokrasi dan sakit hati
Dili terbakar
Bangsa macam apa yang sedang kita bangun?

Darah tergenang
Toko-toko dijarah
Demi demokrasi dan keadilan?

Rumah-rumah dibakar
Dili terbakar lagi
Demi demokrasi dan keadilan?

Omong kosong.

Dili, 4 Desember 2002.

Gelap

Gelap adalah hitam
Gelap dihitam putihkan oleh nafsu
Terang tergerogoti dan
Menjelma hantu bermata hijau
Gelap menjadi milik kita
Manusia manusia tak bernomor

Gelaplah ketika mereka bersenggama
Dengan uang rakyat yang digelapkan
Ketika gelap menyetubuhi naral mereka
Maka berbenihlah anak bangsa gelap
Gelapkan semua
Nurani dan nalarmu
Agar sejarahmu berwarna hitam
Farol, 27 Desember 2001

Pembangunan

Pembangunan kotaku
Banyak artinya
Taruhan dollar
Lingkar magnetis
Menarikku
Kekota

Desa desa kosong
Adat dilupakan
Hidup bebas
Identitas yang hilang
Kesibukan tanpa henti
Dollar bicara
Farol, 22 Desember 2001

Pasung

Langkah kaki terpasung
Semua akal terpenjara
Terkunci
Dan Mati
Farol, 17 Desember 2001

Istirahat

Istirahatlah kata kata
jangan celotohi mereka yang terbius
Diamlah dalam rahim kebusukan
dalam sunyi yang mengiris
tempat orang mengingkar diri
menahan kata katanya sendiri

Tidurlah kata-kata
kita bangkit nanti
Bersama para miskin dan dilupakan
Bila waktunya tiba
kita bikin perhitungan
Dili, 10 Februari 2001

3 Sajak Pendek

1
Kembali kucari
keping pecahan wajah
yang dulu tersusun
Waktu menghancurkannya
Ketika aku mabuk bayangan arah
2
Kembali ketemu
wajahku yang tak pernah utuh
bungkam ketika kutanya
mau kemana

3
Kembali sepatuku jebol;
dua tahun hanya berita semata
Panas aspal jalanan membusuk
Dan matahari demam
melelehkan hari-hari besar dan biasa
Natal, 28 November, 12 November, 30 Agustus dan 20 Mei
Ah... apalah artinya?
Kini kembali aku tertegun
memandang lingkaranmu
Cardiff, 22 Agustus 2001

Kereta-kereta

Kereta-kereta bagaikan keranda
mulai merinsuk memasuki jalanan sempit dan berlubang
Hamparan ladang jagung dan batang batang penopang ikan kering
bagaikan ubung-ubung selamat datang
Anjing, babi dan kambing termangu
tak peduli
Juga dirimu yang kutemui dulu tanpa lipstik dibibir

Orang orang seperti tak merasa hilang atau kehilangan
tapi ada yang mereka cari diantara huruf-hurf mati
Seorang lelaki tua tertawa lalu berkata:
“aku mendengar suara lucu dijaman gila ini..”

Aku coba memandang keluar
Kereta-kerata tetap berhimpitan
Tawa menggoda
semua terasa gelap
Gelap semata dan mataku
diserbu hari-hari kemarin bersamamu
Aku mengingatnya bagai mimpi
tapi aku lupa
Apakah mimpi memang penuh warna

Lupa, lelap dan senyap
Tapi segera aku terjaga
ketika orang-orang serentak menjerit
dibalik sura babadok
yang tenggelam diantara dentuman deruan kereta
dan orang mulai menari
Setelah berita : negeri ini sedang sakit dan hampir mati
Bairro Economico, 26 Juli 2000

Puisi tanpa judul:

Langkah kaki terseret sejarah masa lalu
Arah tak lagi jernih
Kemana jiwa akan dilabuhkan?
Jiwa-jiwa masih berkelana
Diantara rerumputan, semak, celah-celah batu
Dan diantara pijakan tapak kita.
Kapan nurani terpijar asa?
Comarca, Oktober 2003

Untuk Eduardo Gonzaga

Malam tak berbisik, sepi dan sayup
Bintang tak mengusik awan yang mengelantung diatas pohon kelapa
Anjing itu tak juga mau diam
Prak....
Bapakmu kami bawah !
Esoknya matahari menyengat
Percik darah dikarung
Menghentikan langkahmu
Sepotong kaki kembali ke halamanmu
Pada gigitan anjing tetangga!
Ayahmu tak pernah kembali!
Comarca Balide, 13 Februari 2004

Mayat-mayat beryanyi

Gendang bertabuh sayup-sayup
Menggiring kaki menabuh di atas irama
Mengalun... menebar aroma cendana!
Memupuk mendung di atas kepala tanpa kepala

Tetabuhan lantang bersorak
Giring kaki semakin mabuk mengawang
Ditengah sakaw, gemetar, dendangkan;
Lagu Lambada?

Mengapa "Genjer-Genjer" yang bergema?
Mengoyak malam!

Melonjak-lonjak irama, bingar;
Kau lihat! (Hai jiwa-jiwa yang kaku)
Konser kematian kami?
Kau lihat! (Hai jiwa-jiwa yang angkuh)
tubuh kami rekat kuat di tali penyanggamu!

Mengapa tanganmu kau sentak?
Seret kami ke tiang-tiang yang gelisah?

Andai kau diam...,
Mereka tak berpesta di atas darah kami! (darah kemanusiaan)
Dan, kami "sepotong tubuh yang utuh" masih hidup dalam tirani yang mengekang ...
Mencari kebenaran dan keadilan di "Negeri Bayangan"!
Tebet, 25 September 1999

Ponte Cais

On the shore of Ponte Cais
The years chip away at history
Souls, waves and tears are speechless
Confidants implacable and ashen-faced

On the shore of Ponte Cais
The current still polishes faith
Pummels it
Surrounded by the disco beat temptations
And the tawdry lights of the Olympia Hotel

You look back at your plate
Unaware
Do the grinding of the waves
And the glare of Olympia
Silence the hunger

Ponte Cais

Ditepi Ponte Cais
Tahun- tahun menyerpih sejarah
Nyawa, tangis dan ombak
Adalah sahabat yang membatu
Dan bergurat diwajah pucat

Ditepi Ponte Cais
Arus terus menggerus
Menghantam setia diantara dentuman irama dan tarian menggoda
Serta gurat-gurat cahaya Olympia

Tak sadar,
Kau kembali berpaling pada piring
Adakah gerusan ombak dann kilauan Olympia
Membungkam lapar.
Ponte Cais, 20/06/2000

Pasir Putih

Pasir putih adalah jejeran pohon kelapa yang merana
Perahu nelayan yang lapuk terkikis waktu
Sang nelayan menjala buih – buih ombak
Dan anak kecil berlarian tanpa sandal

Pasir putih adalah surga
Bentang tangan Cristo Rei hanyalah dogma
Para pelancong melelehkan birahi
Dan pribumi menjadi tamu.
Areia Branca, 22/08/2002

Ungu

Sehabis hujan
Pelangi tak lagi indah
Mestinya hari ini kau berwarna
Merah
Jingga
Kuning
Hijau dan Biru
Tapi ungu membelenggu nalar mereka
Pelangi hari ini
Berwarna duka

Kau mestinya berontak
Atas cacatnya mereka yang terbelenggu ambisi dan pembodohan

Hari ini kau menangis
Atas mereka yang kau amanatkan
Kebebasanmu

Tapi, hentikan tangis mu
Sebab esok engkau masih akan menangis
Palacio do Governo,12/03/2001

Ah

Saat Timor Lorosa’e merdeka
Merpati putih terbang kepakan sayap damai
Dan demokrasi bukan mimpi

Timor Lorosa’e yang kuimpikan
Tak ada lagi litsus dan opsus
Tak ada lagi Pancasila dan Milisia
Tak ada lagi BKKBN dan KKN

Tapi sayang…
Pencarian identitas berakhir anarkis
Cipta dignitas berakhir brutal
Dan penegakan prestise berbalut fitnah
Kini aku sadar:
Mimpi tentang negara demokratis
Bukan perkara tidur semalam

Mimpi tentang negara yang adil
Bukan berarti berbagi harus sama

Mimpi tentang keadilan
Berujung duit

Dan,
Mimpi tentang demokrasi
Rupanya harus berdemo_crazy
Bairo Economico,30/04/2000

Amis Ucapmu

Bisukan mulutku
Tulikan telingaku
Dengan ucap asingmu
Dan
Asingkan jiwaku dirana moyangku

Bukan aku tak tahu diri
Tapi keranda–keranda leluhurku
Mewarisiku satu kata
: Adilkah ucapmu yang amis
dan terbalut utang budi
bertabur dikeranda mereka?
Bahasamu membisukan esokku
Suai,12/02/2001

Patuh

Diam bukan tahu
Tapi patuh
Maka bicara adalah sekedarnya diam
Acung karena tunduk dan manut
Tak peduli:
Merah
Biru atau putih
Yang penting Vota
Farol,12/12/2001

Nalar Mandul

Negeri yang tak bahagia
Kepak sayap mu tak lagi bergema

Kau telah menangis
Dan kinipun masih menangis
Dalam pelukan kebebasan

Menangislah
Bagi lelur luluhnya cara – cara mencapai tujuan
Menangislah
Bagi prematurnya nalar pemimpin mu yang menggelikan
Dan menangislah
Bagi hasilnya yang meremukan hati,
Yang porak poranda
Bersimbah darah anak kandungmu

Oh … negeri yang tak bahagia
Kini tangismu adalah tangis yang terbungkam
Dan tak tersahut
Tapi ;
Menangislah terus
Bagi kemerdekaanmu yang ditindas
Bagi nalar pemimpin mu yang mandul
Dan menangislah
Bagi sekaratnya anak kandung mu
Diatas kelimpahan belas kasihan
Villa Verde,22/01/2002

Balada bocah di Av. Presidente Nicolau Lobato

Senja merekah,
Pengap masih belum ingin lenyap
Aroma steak dari Café dan resto mulai merebak
Menebar diatas meja-meja yang digelar menghimpit trotoar
Di Avenida Presidenti Nicolau Lobato

Lalat–lalat sudah berangkat
menjemput malam kematian
Seorang bocah belum lima tahun
terus mengais-ngais tong sampah
mencuap-cuap mulutnya mengunyah sampah

Ia belum hendak pulang
Pun belum akan berangkat [Apa arti berangkat? Apa makna pulang baginya?]

Kaki kecil melangkah kecil
menyisir emperan Café – Café dan trotoar yang masih tersisa
menyisakan bau kumuh dan dekil yang terbawah bersamanya
Sedang bau gurih lazagna bukan miliknya
Pun bau uap tuan dan nyonya,
Tidak juga bau ketiak gadis-gadis tengah ranum
Yang belum bulat buah dadanya!

Tangan kecil bergeletar kecil
Memungut warisan yang tercecer dari mulut tuan-tuan
Yang telah berangkat ke barat bersama lalat

Senja pengap berganti malam pekat
Bocah kecilku pun berangkat ke barat
Bersama lalat yang terakhir
Selamat malam Avenida Presidente Nicolau Lobato
Frangipani 27, Darwin 3- 5 September 2002

Sajak Tragedi Nusa Damai

Kesenduan batang padi masih terdengar
Dari ujung tanah Maliana
Itu sama pedihnya dengan gaung yang bertarung pada ujung bukit Matebian, Baguia

Hutan Costa Sul tercekik sepi, sama padatnya dengan
Desah kebisuan yang bersarang di Kraras, Liquisa dan Suai
Desah menentang dari sudut mata dan sejarah lama
Kegagahan kita belum usai,
Seperti yang pernah diimingkan epos-epos lama

Sejarah palsu mengantarkan debu dari negeri terjauh
Dan kita menari jadi pejantan kecut yang enggan bertempik,
Menepis dengan tangan,
Menghindari pertarungan demi mimpi dan janji

Dengarlah, wahai putera negeri
Ada yang melata disampingmu
Ada yang menjamah perut – perut bundamu
Ada yang mengelepar, menghanguskan tanah kita sampai retak
Hingga tak lagi mau memperanakan pohon – pohon,
Memperanakan sungai dan sungai mengalir membelah samudra

Mimpi dan tidur nyenyak tak kunjung usai
Angka-angka kosong makin mengelembung
Melupakan nada dan tembang nenek moyang
: Tempat dimana dulu seribu kerinduan pernah bersarang.
28 Agustus 2002 / Mengenang tragedi September 1999